Hal ini bermula dari persoalan si Kucing Schrödinger. Dimana seekor Kucing dimasukan kedalam kotak dan kotak tersebut dilengkapi dengan sebotol gas beracun, terhubung dengan Geiger Counter yang ditempatkan pada sepotong uranium. Katakanlah ada probablilitas 50% bahwa sebuah atom uranium akan mengalami peluruhan dan merangsang Geiger Counter sehingga menyebabkan palu merusak kaca botol. Sebelum kotak dibuka, mustahil untuk mengatakan kondisi Kucing tsb mati atau hidup. Nyatanya untuk menjelaskan keadaan si Kucing, Fisikawan menambahkan fungsi gelombang Kucing hidup dan mati! Lalu sekarang kita buka kotak tsb, sekali kita mengintip kedalam kotak suatu pengamatan dijalankan dan katakanlah si Kucing hidup!
![]() |
| Percobaan Kucing Schrödinger. |
Pada prinsipnya apa yang sudah kita amati untuk menentukan kondisi si Kucing fungsi gelombang telah kolaps, maka dalam hal ini si Kucing memasuki kondisi definitif. Tindakan observasi merusak fungsi gelombang dan menyebabkan sebuah objek memasuki keadaan khusus.
Tapi persoalan lainnya, bagaimana jika fungsi gelombang justru tidak pernah kolaps? Ini artinya si Kucing tidak berada dalam satu kondisi definitf, melainkan kondisi hidup dan mati pada waktu yang sama! Everett membahas kemungkinan bahwa si Kucing bisa hidup dan mati pada waktu yang sama tapi dengan syarat berada di alam semesta yang berbeda.
Dalam interpretasi tsb, si Kucing mati dan hidup karena alam semesta membelah menjadi dua, di satu alam semesta ia hidup dan dialam semesta lainnya ia mati. Ini artinya persoalan Kucing tersebut juga memberi gambaran pada kita, dimana memungkinkan terdapat duplikasi kita yang lain di alam semesta yang berbeda tapi identik mirip (pararel). Misalnya anda harus mempertimbangkan ketika anda tidak menatap teman anda dikarenakan tempat tinggal anda yang jauh, dimana disuatu alam semesta yang lain yang tak terhingga jumlahnya, teman anda salah satu kemungkinannya telah mengalami kecelakan, disisi lain pada waktu yang sama teman anda justru menjadi Profesor Matematika yang hebat di usia muda. Kenyataannya disetiap titik waktu quantum alam semesta membelah setengahnya, dalam rentetan pembelahan alam semesta tanpa henti.
Lalu keunggulan interpretasi (Many Worlds) ini dijelaskan bahwa kita bisa membuang fungsi gelombang kolaps, dan artinya proses pengamatan untuk menentukan eksitensi dapat diabaikan.
"Saya teringat akan perkataan dalam karya sains fiksi Olaf Stafledon, Star Maker 'Kapanpun seorang makhluk dihadapkan dengan beberapa kemungkinan tindakan, dia mengambil semuanya, sehingga menciptakan banyak sejarah kosmos yang belainan... dan masing-masingnya terus-menerus dihadapkan dengan banyak kemungkinan arah..." Michio Kaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar